Posted in Artikel Bahasa Indonesia, Artikel Islam

Menjaga Lisan Perlambang Muslim Sejati

Rasanya akhir-akhir ini tidak ada media yang tidak sibuk memberitakan perkara penistaan agama oleh Gubernur Non-aktif Jakarta. Perkara penistaan agama yang ramai diperkarakan ini sebenarnya adalah momentum yang tepat juga untuk kita sebagai seorang muslim untuk berkaca. Sebelum sibuk menghujat sang tokoh yang gagal menjaga lisannya, sudahkah kita menjadi seorang pribadi yang mampu melakukannya?

Media sosial dan anonimitas yang disediakannya membuat kebebasan berbicara cenderung menjadi kebablasan bicara. Banyak yang merasa seluruh isi kepalanya pantas-pantas saja untuk diutarakan, toh hanya sebaris kalimat komentar di sebuah forum internet, pikirnya. Padahal, sadarkah kita, setiap huruf yang kita tuliskan di jagat maya ini, tidak akan lupa dicatat oleh para malaikatNya, dan tentu saja harus kita pertanggungjawabkan di hari akhir nanti.

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

(QS. Qaff:18)

Berbicara tanpa mengacuhkan konsekuensinya adalah tindakan yang lazim dilakukan oleh para netizen. Seakan adalah manusia paling suci, paling ahli, dan paling benar, para netizen sibuk mencela, menghina, dan menghujat satu sama lainnya. Tak usahlah di perkara nasional seperti penistaan agama ini, coba saja tengok kolom komentar di portal-portal video maupun portal berita. Sungguh pilu rasanya membaca barisan kata yang cenderung tak beradab untuk diucapkan ditulis berkali-kali, diulang-ulang tanpa rasa dosa.

Dosa yang paling sering terjadi pada Bani Adam, terkait dengan lisannya.

(HR. Thabrani, Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Baihaqi)

Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut ajaran Islam ini, tak terhitung rasanya lisan para netizennya yang tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Padahal baik dalam Alquran maupun hadis tidak sedikit rasanya peringatan dan himbauan untuk senantiasa menjaga lisan.

Ada kalanya seseorang mengucapkan kata yang dimurkai Allah, ia tak menyangka sejauh itu akibatnya, Allah memastikan murka-Nya untuk perkataan itu sampai ia bertemu dengan-Nya.

(HR. Malik & Tirmidzi)

Lisan bisa menjadi kekuatan untuk menegakkan kebenaran, tapi juga bisa menjadi senjata kejam yang menusuk-nusuk hati orang lain. Luka karena pedang mungkin bisa sembuh seiring waktu, tapi luka karena kata selamanya tak akan terlupa. Sebagai seorang muslim yang mencintai agamanya dan teladan Rasul-rasulNya, mari kita sama-sama bermuhasabah, sudahkah kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga lisan kita? Berusaha untuk hanya berkata yang baik dan bermanfaat?

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.

(HR. Bukhari & Muslim)

Jika belum, mari kita mulai dari hari ini,┬ásetiap ingin berbicara ataupun berkomentar, mari kita tanyakan pada diri sendiri: “Baikkah ucapan saya?”; “Pentingkah untuk diucapkan?”; “Bermanfaatkah untuk diutarakan?”

Semoga Allah melindungi kita semua dari lisan yang tak terjaga. Aamiin.