Blog

Posted in Artikel Bahasa Indonesia, Kesehatan

Balada Roti dan Gluten

Indonesia adalah negara paling nyinyir menurut saya, ada-ada saja yang bisa jadi pemicu perdebatan yang sebenarnya tidak esensial ataupun bermanfaat. Tidak jauh-jauh dari perkara kasus si gubernur, sekarang entah kenapa roti juga bisa kena imbasnya. Sebuah produsen roti juga tidak luput dari para cyber bully karena membuat pernyataan tidak penting yang menyinggung segelintir kalangan. Ajakan boikot ramai-ramai pun galak diteriakkan di berbagai media. Benar-benar blunder.

Tapi bukan Indonesia namanya, jika tidak ada yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Di tengah kisruh dan sentimen negatif terhadap si produsen roti tersebut, muncullah nama-nama produsen roti lain yang dianggap lebih berkah dan lebih patut untuk dibeli karena pemiliknya adalah golongan tertentu. Bahkan ada juga yang muncul dengan ide yang lebih besar: mari stop makan roti berbahan terigu, karena gluten di dalam terigu itu tidak sehat! Salut memang dengan kreativitas orang Indonesia.

Namun artikel kali ini bukan untuk menghujat pihak manapun yang mendukung apapun atau siapapun. Kali ini, kita akan fokus pada pernyataan terakhir, apakah memang gluten yang merupakan protein yang bisa ditemukan pada  gandum, jelai (barley), dan gandum hitam ini tidak sehat? Sebelum kisruh per-roti-an ini, booming makanan dengan label bebas gluten sebenarnya memang sudah terjadi, walaupun hanya dinikmati sebagian kalangan karena harganya yang bisa dikatakan tidak terjangkau. Para penggemar makanan bebas gluten ini mengklaim diri mereka menjalani pola diet yang lebih sehat.

Tahukah kamu, pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Bagi kamu penderita penyakit celiac, menghindari gluten memang adalah hal yang sehat, karena gluten akan memicu reaksi alergi pada pencernaanmu. Gejala autoimun yang paling sering ditemukan pada penderita celiac adalah diare. Berbagai rasa tidak nyaman pada area perut, seperti nyeri dan kembung juga bisa terjadi. Penurunan berat badan dan terhambatnya pertumbuhan (pada anak-anak) juga merupakan gejala penyakit ini.

Nah, sementara, faktanya kebanyakan orang yang mengonsumsi makanan bebas gluten ini adalah orang biasa yang tidak alergi pada gluten. Pertanyaannya, apakah tindakan tersebut membuat mereka lebih sehat? Dikutip dari WebMD, menghindari makanan yang mengandung gluten, berarti menghindari banyak makanan bernutrisi baik untuk tubuh. Contohnya seperti makanan-makanan yang terbuat dari gandum utuh, yang mana mengandung banyak vitamin dan mineral yang justru bisa membuat kamu lebih sehat.

Dengan menerapkan pola diet yang bebas gluten, berarti kamu harus menghindari kebanyakan roti, kue, biskuit, pasta, mi, sereal, dan berbagai makanan kemasan yang mungkin mengandung sedikit atau banyak gluten. Dampak menghilangkan gluten dari pola makanan harian ini, berarti kamu harus lebih ekstra hati-hati dalam memilih makanan, dan tentunya membuat tubuh menjadi lebih berisiko kekurangan nutrisi. Selain harga makanan alternatif yang lebih mahal, tidak ada manfaat kesehatan signifikan yang bisa didapatkan tubuh dengan mengeliminasi gluten dari asupan harian.

Jadi, kesimpulannya, jika kamu tidak jelas-jelas mengidap penyakit celiac, tidak usahlah terseret tren makanan bebas gluten yang justru bisa memperburuk kesehatanmu dalam jangka panjang. Untuk memastikan apakah kamu alergi gluten atau tidak, kamu bisa menjalani serangkaian tes di rumah sakit, berupa tes darah dan tes fisik.

Hmm, berarti boleh beli rotinya yang lagi heboh itu dong?

Ya, kalau kamu tidak alergi gluten dan suka sama rotinya, kenapa tidak? 🙂

Posted in Artikel Bahasa Indonesia, Artikel Islam

Menjaga Lisan Perlambang Muslim Sejati

Rasanya akhir-akhir ini tidak ada media yang tidak sibuk memberitakan perkara penistaan agama oleh Gubernur Non-aktif Jakarta. Perkara penistaan agama yang ramai diperkarakan ini sebenarnya adalah momentum yang tepat juga untuk kita sebagai seorang muslim untuk berkaca. Sebelum sibuk menghujat sang tokoh yang gagal menjaga lisannya, sudahkah kita menjadi seorang pribadi yang mampu melakukannya?

Media sosial dan anonimitas yang disediakannya membuat kebebasan berbicara cenderung menjadi kebablasan bicara. Banyak yang merasa seluruh isi kepalanya pantas-pantas saja untuk diutarakan, toh hanya sebaris kalimat komentar di sebuah forum internet, pikirnya. Padahal, sadarkah kita, setiap huruf yang kita tuliskan di jagat maya ini, tidak akan lupa dicatat oleh para malaikatNya, dan tentu saja harus kita pertanggungjawabkan di hari akhir nanti.

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).

(QS. Qaff:18)

Berbicara tanpa mengacuhkan konsekuensinya adalah tindakan yang lazim dilakukan oleh para netizen. Seakan adalah manusia paling suci, paling ahli, dan paling benar, para netizen sibuk mencela, menghina, dan menghujat satu sama lainnya. Tak usahlah di perkara nasional seperti penistaan agama ini, coba saja tengok kolom komentar di portal-portal video maupun portal berita. Sungguh pilu rasanya membaca barisan kata yang cenderung tak beradab untuk diucapkan ditulis berkali-kali, diulang-ulang tanpa rasa dosa.

Dosa yang paling sering terjadi pada Bani Adam, terkait dengan lisannya.

(HR. Thabrani, Ibnu Abi Ad-Dunya, Al-Baihaqi)

Bahkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut ajaran Islam ini, tak terhitung rasanya lisan para netizennya yang tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Padahal baik dalam Alquran maupun hadis tidak sedikit rasanya peringatan dan himbauan untuk senantiasa menjaga lisan.

Ada kalanya seseorang mengucapkan kata yang dimurkai Allah, ia tak menyangka sejauh itu akibatnya, Allah memastikan murka-Nya untuk perkataan itu sampai ia bertemu dengan-Nya.

(HR. Malik & Tirmidzi)

Lisan bisa menjadi kekuatan untuk menegakkan kebenaran, tapi juga bisa menjadi senjata kejam yang menusuk-nusuk hati orang lain. Luka karena pedang mungkin bisa sembuh seiring waktu, tapi luka karena kata selamanya tak akan terlupa. Sebagai seorang muslim yang mencintai agamanya dan teladan Rasul-rasulNya, mari kita sama-sama bermuhasabah, sudahkah kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga lisan kita? Berusaha untuk hanya berkata yang baik dan bermanfaat?

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.

(HR. Bukhari & Muslim)

Jika belum, mari kita mulai dari hari ini, setiap ingin berbicara ataupun berkomentar, mari kita tanyakan pada diri sendiri: “Baikkah ucapan saya?”; “Pentingkah untuk diucapkan?”; “Bermanfaatkah untuk diutarakan?”

Semoga Allah melindungi kita semua dari lisan yang tak terjaga. Aamiin.